4380 JAM
RENI SETIA GUSTINA
So, I lay my
head back down
And I lift my
hands and pray
To be only
yours, I pray, to be only yours
I know now
you're my only hope
Aku menyanyikan lagu lama ini berulang-ulang untuk menemaniku
menelusuri trotoar jalan yang digenangi air di beberapa bagiannya, karena hujan
baru saja reda. Jam tangan merah muda dengan bercak-bercak silver kecil yang
melingkar di pergelangan tanganku menunjukan pukul 14.33 dan pada jam segitu
aku pasti berada di dalam perjalanan pulang dari sekolah. Rumah yang berjarak
300 meter dari sekolah membuatku selalu berjalan kaki pergi dan pulang sekolah.
Dari atas sana, terlihat matahari yang mulai menampakkan senyum manisnya yang
sempat tertunda dari balik awan. Entah
kenapa sejak wali kelasku masuk tadi pagi dan tiba-tiba mengatur ulang posisi
tempat duduk kelas, aku tidak berhenti tersenyum hingga saat ini. Wali kelas
menyusun tempat duduk berdua-dua. Ini keberuntungan atau kebetulan, pokoknya
ini diluar dugaanku, aku bisa duduk dengan Vindo. Sudah hampir setengah tahun, aku
memperhatikannya dari kejauhan dan sekarang dia berada tepat disampingku.
Wanginya kini samar-samar bisa aku cium, wajahnya yang tidak terlalu putih dan
ada satu jerawat yang tumbuh dipipi sebelah kirinya juga bisa aku lihat dengan
jelas. Sebenarnya aku memiliki rasa yang luar biasa padanya, rasa ini tidak
dapat diungkapkan dengan kata apapun kecuali dengan kata cinta. Tapi hingga
saat ini aku tidak berani mengutarakannya. Berinteraksi saja jarang kecuali
lagi kerja kelompok itupun jarang banget aku sekelompok dengan dia. Yang tahu
tentang perasaanku padanya adalah Mino, Tia dan Ane. Mereka sahabatku. Mino dan
aku berada dikelas XI IPA 1, Mino pernah mengungkapkan perasaannya padaku tapi
aku tidak bisa menerima. Karena aku sudah menganggap dia sebagai sahabatku.
Begitulah alasanku menolak perasaannya. Aku tidak tahu lagi harus menggunakan
alasan apa karena aku benar-benar tidak memiliki rasa padanya. Tapi, dia
mengerti sehingga dia menjadi benar-benar sahabatku yang aku percaya. Sedangkan
Tia dan Ane berada dikelas XI IPA 2. Mereka sahabatku sejak SMP. Kami adalah tiga
serangkai yang saling melengkapi contohnya saja, aku pintar dalam pelajaran
menghitung, Ane dalam pelajaran bahasa, dan Tia dalam seni budaya.
Setelah sampai di rumah, aku langsung meraba laci kayu
jati yang ada disebelah kasurku dan mengambil handphone. Aku tidak sabar lagi
untuk membuat pengumuman terbaru ini, dengan lincah tanganku menekan tombol-tombol
handphone merangkai kata-kata untuk mewakili hatiku yang bahagia ini. Dan tidak
sampai dua menit, pesan sudah terbang ke udara melewati satelit dan tling...tling... sampai ke handphone Tia
dan Ane. Seperti biasa setiap kali ada sesuatu menyetuh kita, pasti sistem
saraf langsung bekerja. Begitu juga dengan Tia dan Ane, mereka langsung bisa
merasakan kebahagiaan yang aku rasakan dan dengan segera ucapan selamat dari
mereka masuk ke dalam inbox
handphoneku.
Selamat ya Eune. Mimpimu jadi
nyata. Itulah kata yang diucapkan oleh Tia dan Ane
padaku melalui sms. Aku bahagia luar biasa hari ini.
Malamnya, Mino langsung mengirim sms padaku dan mengucapkan
selamat. Padahal aku hanya duduk di sebelah Vindo tapi rasanya seperti terbang
ke surga. Sepertinya aku akan selalu menunggu matahari terbit agar bisa
cepat-cepat pergi ke sekolah dan duduk manis di sebelah Vindo.
****
Sudah hampir seminggu aku duduk di sebelah Vindo, dan jerawat
di pipi kirinya sudah mulai menghilang tapi sampai detik itu juga aku belum bisa
dekat dengan dia. Tapi, setelah diukur melalui alat ukur pedekate, kedekatan
aku dan Vindo sudah menunjukan bahwa ada kemajuan sekitar 17%. Hal ini diambil
dari data ketika ulangan atau ada tugas, Vindo sering melihat jawaban punyaku.
Aku bela-belain belajar malam agar Vindo bisa melihat punyaku sesering mungkin
setidaknya disaat seperti itulah kami berinteraksi dengan dekat. Seperti
kata-kata yang aku kutip dari film Turbo ‘Tak
ada mimpi yang terlalu besar dan tak ada pemimpi yang terlalu kecil’ dan segala
sesuatu butuh proses dan perjuangan. Aku akhirnya mendapatkan nomor
handphonenya. Terkadang Vindo sms aku untuk sekedar menanyakan tugas sekolah
bukan untuk hal pribadi. Aku juga tidak mau menunjukan bahwa aku punya rasa
pada Vindo, jadi aku belum berani menanyakan hal pribadi tentang dirinya.
Sore ini Ane datang ke rumahku. Rencananya kami mau
menonton film yang baru saja rilis. Dan sebagai perempuan ditambah sahabat yang
kental, aku selalu menceritakan apa yang kualami dan begitu juga dengan Ane.
Entah kenapa tiba-tiba aku meminta Ane untuk mengirim sms pada Vindo, aku mau
tahu bagaimana reaksi Vindo kalau ada perempuan yang mengirim sms padanya dan
mungkin saja Ane bisa membantuku untuk mencari info-info tentang Vindo. Karena,
aku tidak mau salah dalam memilih laki-laki. Ya, setidaknya aku tidak akan
pernah memiliki kisah terburuk dalam hidupku jika aku memilih lelaki yang baik.
Sebagai sahabat, Ane pun tidak menyanggal ataupun menolak permintaanku. Aku pun
memberikan nomor Vindo pada Ane.
****
Aku bertemu Ane tanpa sengaja di kantin sekolah. Dan
hari ini adalah hari ke enam setelah aku memberikan nomor Vindo pada Ane.
“Ane. Sini makan bareng yuk.” Aku melambaikan tangan
kearah Ane yang membawa semangkok soto dan segelas air. “Eh, Eune. Boleh-boleh.”
Ane berjalan lalu duduk di kursi kosong yang berada di depan meja kantin tepat
di hadapanku.
“Nanti malam kan malam minggu jadi kerumahku, kan?”
tanyaku pada Ane minta kepastian atas kedatangan mereka ke rumahku malam ini.
“Jadi lah.” Tiba-tiba suara Ane mengecil “Oia, ternyata
Vindo itu orangnya gak cuek-cuek kali. Asyik kok. Katanya dia pernah liat aku
waktu aku pinjam buku ke kelasmu kemaren.”
“Ya iyalah dia asyik orangnya, kalau tidak mana
mungkin aku suka dengan dia. Terus, terus, ngomongin apa aja kalian?” Aku penasaran
tingkat dewa.
“Gitu-gitu aja kok, Eune. Dia juga nanyai kamu lho.”
“Oh ya? Nanya apa? Penasaran ni.” Aku bahagia luar
biasa.
“Katanya ‘kamu dekat dengan Eune ya? Sejak kapan?’
pokoknya gitu-gitu lah.”
“Terima kasih infonya ya Ane yang baik hati, tidak
sombong dan rajin nabung lagi.”
“Yeee... Ada maunya aja baru dibaikin, dipuji. Coba
kalau tidak,” belum sempat Ane bicara aku memotong pembicaraan Ane “Hahaha, udah dari zaman penjajahan
Jepang emang begitu. Kalau tidak gitu pasti Jepang tidak pernah jajah negara
kita. Dah ya damai, canda doang.” Aku mengangkat tangan kananku dan membentuk
huruf V dengan jari telunjuk dan tengah.
“Iya iya. Ya ampun Eune, aku ke pergi
duluan ya. Pr kimia belum selesai ni. Bye.” Ane bangkit dari kursinya dan
langsung pergi. Lima menit lagi bel berbunyi. Aku kembali kelas.
****
Malam Minggu adalah hari yang sangat aku
nanti-nanti. Soalnya, Ane dan Tia memiliki jadwal rutin untuk menginap di
rumahku. Hal ini sudah disetujui oleh orangtua kami. Dan tidak lupa setiap kali
ke rumahku, mereka membawa makanan mulai dari permen yang kecil manis sampai ke
roti bakar yang besar manis, dari nasi goreng hingga ke nasi uduk. Pokoknya
kalau di hitung-hitung setiap malam Minggu sudah tidak terhingga berapa banyak
kalori yang masuk kedalam tubuh kami. Sampai-sampai mamaku menasehati kami agar
tidak banyak memakan makanan yang banyak kalori karena tidak baik untuk
kesehatan. Tapi, kami hanya mengingatnya semalam. Dan besok-besoknya lupa lagi.
Sudah jam delapan lewat mereka belum
datang, aku duduk di ruang tamu yang berdinding warna hijau muda dan temani
oleh televisi yang menayangkan Big Movie
Ender’s Game yang sudah berulang-ulang aku tonton tanpa bosan. Tidak biasanya mereka ngaret selama ini.
Batinku. Sesekali aku melirik kearah jam yang terduduk manis diantara
photo-photo keluargaku di atas meja. Malam ini orangtuaku pergi kerumah
tetangga, soalnya ada acara. Sepi.
Baru saja aku mau mengambil handphone,
mereka datang dengan muka tanpa bersalah berdiri di depan rumahku yang pintunya
sengaja tidak aku kunci. Bau nasi goreng yang khas tercium ketika Tia menyodorkan
plastik kehadapanku.
Setelah mereka masuk aku mengunci pintu.
Tanpa berbicara apa-apa.
“Nasi goreng Atik ni. Kok mukamu kusut
bener? Gak suka ya?” akhirnya Tia menyadarinya membuat muka kesalku.
“Kamu ini Ti, gak sensitive banget. Aku
sudah nunggu dari tadi pun.”
“Maaf. Antrian panjang. Tanya aja Ane.
Atiknya pake introgasi kami pula. Nanya-nanya kelas berapa, apalah gitu.”
“Oh ya? Bagus dong. Kalau kalian sudah
akrab dengan dia, mungkin saja dia punya rencana kasih potongan harga. Kan kita
langganan.” Kataku sambil berjalan menuju dapur mengambil piring, sendok dan
beberapa daun salada yang ditinggalkan mamaku untuk kami bertiga. Mamaku tidak
pernah melarang kami untuk melakukan acara rutin kami. Dia malah senang jika
ada temanku yang datang kerumah.
“Kalau kayak gitu bagus. Tapi kalau dia
malah nyuruh kita kerja ditempat dia gimana?”seru Tia sambil mengambil piring
yang aku bawa. Dan sudah tidak heran bagiku. Tia selalu memikirkan dampak
negatif dari kejadian yang dialami.
“Positif dikitlah.” aku beralih pada Ane
yang dari tadi hanya terdiam menatap handphone yang dia pegang tanpa
mengedipkan mata. “Ane? Ne tumben diam aja. Keselek?”
“Ha?” Ane dengan muka bingung nanya
kembali padaku. Sepertinya dia tidak mendengar apa yang aku katakan barusan.
“Aune bilang, kenapa diam aja? Keselek?” belum
sempat aku mengulangi pertanyaan, ternyata Tia sudah mewalikiku.
“Enggak. Mana mungkin aku keselek. Aku
kan belum makan.” Diiring ketawa kecilnya.
“Oh, kirain ada apa gitu. Ayo makan.
Laper ni. Atik memang hebat. Wangi nasi gorengnya sungguh mengoda seperti bau parfumnya
Asa Butterfield.” Kata Tia sambil mencium nasi goreng.
“Gila. Kayak pernah ketemuan aja.
Jelas-jelas parfummu sendiri yang disemprotkan ke posternya Asa Butterfield.”
Kataku sambil memasukkan beberapa lembar
salada ke piring Tia dan Ane.
“Biarin. Setidaknya dia bangga hanya dia
satu-satunya cowok yang pakai parfum aku.” Sambil menyuap nasi menuju lembah
pertama dalam saluran pencernaan.
“Apalah. Das....” tiba-tiba ucapanku
terpotong ketika ada yang mengetuk pintu. “Tunggu bentar. Ada tamu.” Aku pergi
menuju pintu dan mengintip melalui jendela yang berada di samping pintu setelah
mengetahui siapa yang datang, tanpa ragu-ragu aku membuka pintu. Setelah
beberapa menit kemudian, aku menutup pintu dan kembali ke ruang tamu sambil
membawa plastik.
“Apa tu?” tanya Ane yang heran melihat
plastik yang aku bawa.
“Ciki-ciki dari Mino. Dia janji mau ngasi
buat aku sama Ane. Tia nggak masuk daftar. Soalnya Tia sudah gemuk gak kayak
nyamuk lagi.”
“Gila tu orang. Sejak kapan aku kayak
nyamuk. Awas ya dia. Ngajak berantem ya?”
“Ngak usah nyolotnya sama kami dong. Kami
kan malaikat tanpa dosa.” Kataku sambil mengeluarkan bermacam-macam merk
makanan dari plastik.
“Malaikat? Mana ada malaikat kayak
kalian, gak cocok. Udah deh, ayo kita makan dulu. Gak baik makan sambil bicara.
Papa mama larang.” Ujar Tia sambil tertawa karena mengingat lagu hitnya Judika.
“Yang banyak bicara siapa? Kan kamu.”
Kata Ane kepada Tia. “Oia Eune, kamu masih suka gak sama Vindo?” tanyanya
sambil berkata pelan-pelan kepadaku.
Kenapa Ane
bertanya seperti itu? Pertanyaan ini seperti ‘satu tambah satu yang sudah pasti
jawabanya dua’. Pasti dia tahu jawabannya. Kenapa mesti nanya lagi. Batinku. “Emangnya kenapa?” Aku butuh
penjelasan atas dasar apa dia bertanya seperti itu.
“Nanya aja. Masih ya?”
“Kenapa juga?” Aku menatap Ane dengan
perasaan aneh.
“Gini, kamu jangan marah dulu. Vindo
nembak aku barusan lewat sms. Jadi gimana? Jangan marah ya Eune.”
Glegar. Petir menyambarku tepatnya di
hati. Aku segera menyuruh sel-sel tubuhku bergegas bekerja untuk membangun
bendungan di mataku agar air mataku tidak keluar, menguatkan hatiku agar tidak
retak dan hacur karena petir mendadak ini dan tetap kuat mencerna kata-kata
Ane.
“Hahaha” ketawa kecil, terpaksa tapi
terdengar nyaring tanpa sadar keluar dari mulutku. Aku tidak tahu mau merespon
apa. “Kenapa tanya ke aku? Aku bukan siapa-siapanya dia. Temanan aja ngak
dekat.” Kata-kata itu keluar seperti air terjun. Mungkin kata-kata lebih baik
daripada air mata yang keluar seperti air terjun.
“Aku ngak enak sama kamu. Aku terima dia
ya?” Kata Ane menatapku. Sedangkan Tia sudah mematung tanpa berbicara apa-apa.
Dasar
Ane bodoh atau pura-pura bodoh sih. Kalau sudah tahu gak enak hati sama aku
kenapa mesti tanya ke aku. Tolak aja Vindo. Gampangkan. Andai saja
kata-kata itu bisa keluar dari mulutku. Tapi, apalah daya semua itu tidak
semudah yang dibayangkan.
“Kalau kamu suka dengannya. Terima saja.
Gak apa-apa.” Malah kata itu yang keluar.
“Kamu ikhlasin dia untukku?” tanya lagi
meminta persetujuanku.
“Iya.” Sedikit senyum pahit mekar
dibibirku.
Setidaknya bendungan yang telah dibangun
masih tetap bertahan terhadap ombak kuat air mataku yang terus mendesak untuk
keluari. Kalau malam ini tidak ada mereka berdua, aku pasti sudah merobohkan
bendungan ini dan berguling-guling kesana kemari sambil nangis. Perjuanganku
telah sia-sia. Semuanya berakhir dengan seperti ini. Mino adalah orang ke empat
yang mengetahui berita ini. Dengan berbagai macam kata-kata dia ukir melalui
sms untuk menyemangatiku agar tidak terlalu sedih. Terkadang, aku menyadari
betapa baiknya Mino yang selalu ada saat aku membutuhkanya. Tapi, kami hanyalah
teman. Aku benar-benar tidak bisa tidur dengan bahagia malam ini apalagi
melihat orang yang tidur terlelap di samping kananku.
****
Senin sekitar jam dua siang aku
uring-uringan di kamar. Aku tidak bisa tidur, banyak pikiran yang menghinggap diotakku.
Dari semalam aku tidak berhenti memikirkan tentang Ane dan Vindo. Seharusnya Ane bilang ke Vindo kalau aku
yang suka padanya sejak dulu. Bukannya membiarkan Vindo menembak dia. Kata-kata
itulah yang selalu ingin aku lontarkan pada Ane. Tapi itu mustahil, Ane sudah
lebih lama dan lebih dahulu menjadi teman baikku, dibandingkan menjadi teman
burukku. “Hello..hello..moshi..moshi..Eune..” terdengar suara cempreng ditambah
ketukan seperti ada kebakaran dari balik pintu kamarku. Dengan malas aku
membukanya.
“Eune, kenapa handphonemu tidak aktif?
Depresi?” tanya Tia sambil berjalan masuk dan langsung duduk di atas kasur.
“Baterainya low. Kenapa?” Aku duduk di
kursi samping tempat tidur.
“Pantesan. Cepetan di cas. Ada sesuatu.”
Kata Tia sambil memekarkan senyumannya.
“Apa sesuatunya? Lagi malas. ” Kataku
tanpa menyentuh handphoneku yang tergeletak tanpa daya yang berada atas meja
samping tempat tidur.
Tia melihat sekeliling kamarku, dan
tatapannya sudah menemukan handphoneku yang dia tuju lalu dengan segera dia
mengambil cas handphone yang berada di sebelah handphone lalu mencolokkan ke
stopkontak. “Bagus kamu hidupkan sendiri ni.” Tia memberikan handphoneku yang
sedang di cas.
Tanpa menjawab, aku langsung menghidupkan
handphoneku. Tiba-tiba ekspresiku berubah mendadak. “Apa-apa ini? Kenapa banyak
banget dia sms aku?” Belasan sms Vindo masuk kedalam inboxku. Yang memiliki
maksud yang sama yaitu: Kenapa handphoneku tidak aktif dan tidak balas smsnya.
“Kok malah melebarkan mata? Harusnya
melebarkan bibir dong.” Kata Tia penuh basa-basi sambil senyum.
“Serius. Apa yang terjadi? Jangan bilang
kamu kasih tahu dia kalau aku suka sama dia.”
“Aku tidak bilang gitu. Dia sendiri yang
ngambil kesimpulan kalau kamu suka sama dia.” Aku tidak tahu mau meletakkan
muka dimana. Bisa-bisanya Tia bilang ke Vindo kalau aku suka sama dia dengan
mudahnya. “Kamu tenang dulu. Aku bisa jelasin semua. Sekarang yang penting kamu
balas sms dia. Dia khawatir banget sama kamu.”
“Aku tidak tahu mau balas apa. Apa yang
kamu lakukan sebenarnya?”
“Tidak ada apa-apa. Aku cuma bilang,
kalau kamu lebih duluan suka sama dia. Bukannya Ane. Terus dia bilang. ‘Kenapa
tidak bilang dari dulu? Aku tidak tahu akan seperti ini kejadiannya’ jadi tanpa
sadar aku ceritakan semuanya.”
“Sejujur itu kah kamu pada Vindo?” tanyaku.
Jawaban Tia hanya anggukan kepalanya berulang kali. “Jadi, inti dari dia sms
aku ini apa?”
“Aku tidak tahu. Pokoknya dia bilang
‘kenapa Aune tidak bilang dari dulu kalau Aune suka sama aku.’ Mungkin saja dia
juga punya rasa sama kamu, dan menggunakan Ane untuk nanya-nanya tentang kamu.
Dan buktinya dia langsung sms kamu.”
“Mustahil, Tia.” Kataku sambil menatap
Tia.
“Tapi, kamu senangkan dia sms.”
Jujur, rasanya aku ingin terbang dan
berteriak bahwa aku bahagia banget. Tapi,
itu tidak mungkin lagi untuk sekarang. Vindo milik Ane. Dan aku tidak yakin
dugaan Tia benar sepenuhnya.
“Hello? Kamu senang kan? Tanpa kamu
berkata yang sebenarnya, wajahmu sudah menjelaskan kok.”
“Apaan sih? Sok tahu.”
“Terserah aja deh. Aku pulang dulu. Dan
jangan lupa balas smsnya Vindo.” Tia beranjak dari tempat tidurku, dan keluar
kamar.
Tiba-tiba dia terdiam di depan kamarku.
“Ada apa?” tanyaku yang masih duduk.
Tia membuka pintu kamarku lebar-lebar.
Dan di sana seorang perempuan berambut panjang berdiri. Yang jelas itu bukan
kuntilanak yang sering aku lihat di televisi soalnya dia masih memijak lantai.
Setelah lebih jelas, aku terkejut bahkan sangat-sangat terkejut sampai mata dan
mulutku membetuk sudut 360 derajat. Ternyata itu adalah kuntilanak dalam
hidupku, Ane. Entah kenapa sejak kejadian itu aku sedikit kurang suka terhadap
Ane. Tapi, cukup Allah dan aku yang tahu tentang hal ini. Aku tidak tahu apa
yang harus aku lakukan. Apakah Ane mendengar semuanya?
“Hm, maaf. Tadi aku mau minta bantu
dengan Eune tentang tugas matematika. Tapi, tiba-tiba mamaku menyuruhku pulang.
Aku pulang dulu ya.” Kata Ane terbata-bata dan langsung pergi begitu saja.
Sebelum sempat aku dan Tia berbicara.
Tia segera menutup pintu dan masuk
kembali. “Eune...”
“Tia... sejak kapan dia balik pintu?”
balasku memanggilnya.
“Mana aku tahu. Coba kamu tanya mamamu,
soalnya tadi waktu aku datang mamamu yang menyuruhku langsung ke kamarmu.
Mungkin saja mamamu juga yang menyuruh Ane ke sini.Tapi, itu bagus. Setidaknya
dia sadar. Vindo itu untukmu.”
“Kok kamu gitu.” Walaupun Ane adalah
orang yang telah mengkhianatiku, tapi dia tetap perempuan yang memiliki
perasaan sama seperti perempuan lain. “Sekarang, kita harus ngapain coba?” Aku
bertanya pada Tia. Baru saja aku merasakan indahnya hidup di dunia, dan
sekarang semua itu lenyap seketika
seperti memutar telapak tangan.
“Berfikir.” Kata Tia lagi. Kami berdua
sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba handphone aku berdering. Kali ini
adalah nomor yang pertama kali menelpon ke nomorku. Vindo.
“Gimana Tia, kamu saja yang angkat ya?”
Aku memberi handphoneku pada Tia.
Tia menolak. “Tidak bisa begitu. Itu
nomormu. Angkat sajalah. Nanti dia pingsan lagi, kalau dengar suara istri Asa
Butterfield.” Canda Tia yang sempat-sempatnya ia lakukan pada saat seperti ini.
Aku menarik napas panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan lalu aku angkat
telpon dari Vindo.
“Hallo....Terus....Apa?....Kenapa jadi
aku? Itu salah kamu sendiri........... Ok..” aku langsung mematikan handphone
dengan kesal.
“Kenapa?”
“Masa iya, Ane nelpon Vindo sambil nangis
gara-gara aku masih suka sama Vindo. Jelas-jelas aku dari dulu memang suka sama
Vindo. Lagian, Vindo yang sms aku duluan.”
“Terus? Terus?”
“Ya, Vindo menyuruhku
membujuk Ane agar tidak nangis lagi. Benar-benar gila. Kenapa aku jadi
tersangka. Jelas-jelas aku adalah korban.” Emosiku sedikit naik. Ini semua
benar-benar tidak masuk akal. Vindo yang baru sadar akan besarnya cintaku
padanya kini semua itu berubah menjadi permintaan bantuan darinya untuk
membujuk wanita yang menjadi duri dalam perjuanganku mendapatkan Vindo. Memang
apa yang difikirkan oleh Vindo.
“Jadi gimana?”
Tanpa menjawab pertanyaan Tia, aku
langsung mengambil handphone dan menelpon Ane.
“Hallo Ane, dengankan aku. Sekarang aku
sudah tidak ada rasa dengan Vindo lagi. Jangan salah paham.... Kalau ngerti
kenapa nangis?.... Lain kali kalau jangan langsung ambil kesimpulan sendiri.
Aku jadi gak enak ni.... Yalah.... Ya. Dah ya, Bye.” Aku mematikan handphone. Mungkin
baru kali ini aku bicara dengan nada sedikit tinggi pada Ane. Sejujurnya aku
tidak ingin melakukannya. Tapi, aku tidak bisa menjadi perempuan sabar terus.
Sabar itu susah. Selesai sudah semuanya. Aku hanya bisa terdiam menyaksikan
kisah hidup bahagia antara Ane sahabat penusukku dan Vindo lelaki yang
benar-benar sulit untuk aku ungkapkan saat ini.
“Dah? Selesai? Hanya sampai sini
perjuangan cintamu pada Vindo?” tanya Tia padaku.
“Jadi harus bagaimana lagi? Lagian,
setelah peristiwa ini aku tahu kalau Vindo itu tidak baik. Buktinya, dengan
mudahnya dia bersikap khawatir padaku dan tiba-tiba jadi marah-marah. Emosi aku.
Jadi, jangan pernah ungkit-ungkit dia lagi. Ok. Hm, kamu tidak jadi pulang?”
sedikit senyum aku sengaja ciptakan agar Tia tidak khawatir terhadapku.
“Ya nih. Pulang dulu ya. Sabar ya. Kalau
kamu mau cerita lagi. Aku siap dengerin. Bye” Tia kali ini benar-benar pulang.
Sepuluh detik, tujuh detik, empat detik,
dan satu detik, tes. Air mata yang sudah berusaha aku bendung akhirnya menjebol
bendunganku. Dan keluar seperti air terjun. Aku segera menelpon Mino untuk
mencurahkan semuanya padanya. Dengan sabar dia mendengarkanku yang aku
ceritakan sambil menangis tanpa henti. Dia juga memberi memberi semangat padaku
agar aku tidak terlalu sedih. Entah bagaimana jika tidak ada Mino, aku tidak
tahu mau mencurahkan semua ini pada siapa lagi. Pada mama atau ayah? Itu gak
mungkin. Sangat memalukan. Pasti mereka akan mengatakan ‘masih banyak lelaki di
dunia. Dan seharusnya kamu belajar untuk saat ini bukan mencari lelaki’. Itu
sudah pasti akan terucap dari salah satu mereka. Setelah hampir 45 menit bicara
pada Mino, aku mematikan handphone.
Apakah laki-laki memang seperti itu?
Dengan mudahnya merubah keputusan tanpa berfikir panjang, apakah itu akan
menyakitkan pihak lain atau tidak? Pupus sudah segalanya tentang Vindo. Terbuang
sia-sia rasa cintaku padanya sejak 4380 jam yang lalu. Kisah cinta terburuk
akhirnya menyapaku juga, bagaimanapun ini sudah menjadi takdir hidupku. Tidak
terasa matahari sudah mulai tenggelam, begitu banyak masalah yang aku lewati
hari ini. Seiring tenggelamnya matahari, tenggelam pula diriku dalam kesedihan.
Tapi esok hari matahari pasti akan bersinar kembali. Apakah kebahagianku akan
bersinar juga? Inilah kenyataan yang harus aku jalani. Terkadang tidak semua
usaha menghasilkan buah yang manis, jika kita salah sedikit dalam berusaha,
maka semua akan sia-sia. Aku terlelap, semoga aku bisa bermimpi indah dan
bertemu pangeran yang sebenarnya untuk hidupku dan yang jelas bukan Vindo.
The 12 Best Slots by RealTime Gaming | MapYRO
BalasHapus› › Games › Hot-R › › Games › Hot-R 경주 출장안마 Slot machines 충주 출장마사지 with real 하남 출장안마 money in December 2021. 삼척 출장샵 Get Free Coins for Fun 의정부 출장샵 - No Deposit Required.