Minggu, 30 Maret 2014

Cerpen



4380 JAM
RENI SETIA GUSTINA
So, I lay my head back down
And I lift my hands and pray
To be only yours, I pray, to be only yours
I know now you're my only hope
Aku menyanyikan lagu lama ini berulang-ulang untuk menemaniku menelusuri trotoar jalan yang digenangi air di beberapa bagiannya, karena hujan baru saja reda. Jam tangan merah muda dengan bercak-bercak silver kecil yang melingkar di pergelangan tanganku menunjukan pukul 14.33 dan pada jam segitu aku pasti berada di dalam perjalanan pulang dari sekolah. Rumah yang berjarak 300 meter dari sekolah membuatku selalu berjalan kaki pergi dan pulang sekolah. Dari atas sana, terlihat matahari yang mulai menampakkan senyum manisnya yang sempat tertunda dari balik awan.  Entah kenapa sejak wali kelasku masuk tadi pagi dan tiba-tiba mengatur ulang posisi tempat duduk kelas, aku tidak berhenti tersenyum hingga saat ini. Wali kelas menyusun tempat duduk berdua-dua. Ini keberuntungan atau kebetulan, pokoknya ini diluar dugaanku, aku bisa duduk dengan Vindo. Sudah hampir setengah tahun, aku memperhatikannya dari kejauhan dan sekarang dia berada tepat disampingku. Wanginya kini samar-samar bisa aku cium, wajahnya yang tidak terlalu putih dan ada satu jerawat yang tumbuh dipipi sebelah kirinya juga bisa aku lihat dengan jelas. Sebenarnya aku memiliki rasa yang luar biasa padanya, rasa ini tidak dapat diungkapkan dengan kata apapun kecuali dengan kata cinta. Tapi hingga saat ini aku tidak berani mengutarakannya. Berinteraksi saja jarang kecuali lagi kerja kelompok itupun jarang banget aku sekelompok dengan dia. Yang tahu tentang perasaanku padanya adalah Mino, Tia dan Ane. Mereka sahabatku. Mino dan aku berada dikelas XI IPA 1, Mino pernah mengungkapkan perasaannya padaku tapi aku tidak bisa menerima. Karena aku sudah menganggap dia sebagai sahabatku. Begitulah alasanku menolak perasaannya. Aku tidak tahu lagi harus menggunakan alasan apa karena aku benar-benar tidak memiliki rasa padanya. Tapi, dia mengerti sehingga dia menjadi benar-benar sahabatku yang aku percaya. Sedangkan Tia dan Ane berada dikelas XI IPA 2. Mereka sahabatku sejak SMP. Kami adalah tiga serangkai yang saling melengkapi contohnya saja, aku pintar dalam pelajaran menghitung, Ane dalam pelajaran bahasa, dan Tia dalam seni budaya.
Setelah sampai di rumah, aku langsung meraba laci kayu jati yang ada disebelah kasurku dan mengambil handphone. Aku tidak sabar lagi untuk membuat pengumuman terbaru ini, dengan lincah tanganku menekan tombol-tombol handphone merangkai kata-kata untuk mewakili hatiku yang bahagia ini. Dan tidak sampai dua menit, pesan sudah terbang ke udara melewati satelit dan tling...tling... sampai ke handphone Tia dan Ane. Seperti biasa setiap kali ada sesuatu menyetuh kita, pasti sistem saraf langsung bekerja. Begitu juga dengan Tia dan Ane, mereka langsung bisa merasakan kebahagiaan yang aku rasakan dan dengan segera ucapan selamat dari mereka masuk ke dalam inbox handphoneku.
Selamat ya Eune. Mimpimu jadi nyata. Itulah kata yang diucapkan oleh Tia dan Ane padaku melalui sms. Aku bahagia luar biasa hari ini.
Malamnya, Mino langsung mengirim sms padaku dan mengucapkan selamat. Padahal aku hanya duduk di sebelah Vindo tapi rasanya seperti terbang ke surga. Sepertinya aku akan selalu menunggu matahari terbit agar bisa cepat-cepat pergi ke sekolah dan duduk manis di sebelah Vindo.
****
Sudah hampir seminggu aku duduk di sebelah Vindo, dan jerawat di pipi kirinya sudah mulai menghilang tapi sampai detik itu juga aku belum bisa dekat dengan dia. Tapi, setelah diukur melalui alat ukur pedekate, kedekatan aku dan Vindo sudah menunjukan bahwa ada kemajuan sekitar 17%. Hal ini diambil dari data ketika ulangan atau ada tugas, Vindo sering melihat jawaban punyaku. Aku bela-belain belajar malam agar Vindo bisa melihat punyaku sesering mungkin setidaknya disaat seperti itulah kami berinteraksi dengan dekat. Seperti kata-kata yang aku kutip dari film Turbo ‘Tak ada mimpi yang terlalu besar dan tak ada pemimpi yang terlalu kecil’ dan segala sesuatu butuh proses dan perjuangan. Aku akhirnya mendapatkan nomor handphonenya. Terkadang Vindo sms aku untuk sekedar menanyakan tugas sekolah bukan untuk hal pribadi. Aku juga tidak mau menunjukan bahwa aku punya rasa pada Vindo, jadi aku belum berani menanyakan hal pribadi tentang dirinya.
Sore ini Ane datang ke rumahku. Rencananya kami mau menonton film yang baru saja rilis. Dan sebagai perempuan ditambah sahabat yang kental, aku selalu menceritakan apa yang kualami dan begitu juga dengan Ane. Entah kenapa tiba-tiba aku meminta Ane untuk mengirim sms pada Vindo, aku mau tahu bagaimana reaksi Vindo kalau ada perempuan yang mengirim sms padanya dan mungkin saja Ane bisa membantuku untuk mencari info-info tentang Vindo. Karena, aku tidak mau salah dalam memilih laki-laki. Ya, setidaknya aku tidak akan pernah memiliki kisah terburuk dalam hidupku jika aku memilih lelaki yang baik. Sebagai sahabat, Ane pun tidak menyanggal ataupun menolak permintaanku. Aku pun memberikan nomor Vindo pada Ane.
****
Aku bertemu Ane tanpa sengaja di kantin sekolah. Dan hari ini adalah hari ke enam setelah aku memberikan nomor Vindo pada Ane.
“Ane. Sini makan bareng yuk.” Aku melambaikan tangan kearah Ane yang membawa semangkok soto dan segelas air. “Eh, Eune. Boleh-boleh.” Ane berjalan lalu duduk di kursi kosong yang berada di depan meja kantin tepat di hadapanku.
“Nanti malam kan malam minggu jadi kerumahku, kan?” tanyaku pada Ane minta kepastian atas kedatangan mereka ke rumahku malam ini.
“Jadi lah.” Tiba-tiba suara Ane mengecil “Oia, ternyata Vindo itu orangnya gak cuek-cuek kali. Asyik kok. Katanya dia pernah liat aku waktu aku pinjam buku ke kelasmu kemaren.”
“Ya iyalah dia asyik orangnya, kalau tidak mana mungkin aku suka dengan dia. Terus, terus, ngomongin apa aja kalian?” Aku penasaran tingkat dewa.
“Gitu-gitu aja kok, Eune. Dia juga nanyai kamu lho.”
“Oh ya? Nanya apa? Penasaran ni.” Aku bahagia luar biasa.
“Katanya ‘kamu dekat dengan Eune ya? Sejak kapan?’ pokoknya gitu-gitu lah.”
“Terima kasih infonya ya Ane yang baik hati, tidak sombong dan rajin nabung lagi.”
“Yeee... Ada maunya aja baru dibaikin, dipuji. Coba kalau tidak,” belum sempat Ane bicara aku memotong pembicaraan Ane “Hahaha, udah dari zaman penjajahan Jepang emang begitu. Kalau tidak gitu pasti Jepang tidak pernah jajah negara kita. Dah ya damai, canda doang.” Aku mengangkat tangan kananku dan membentuk huruf V dengan jari telunjuk dan tengah.
“Iya iya. Ya ampun Eune, aku ke pergi duluan ya. Pr kimia belum selesai ni. Bye.” Ane bangkit dari kursinya dan langsung pergi. Lima menit lagi bel berbunyi. Aku kembali kelas.
****
Malam Minggu adalah hari yang sangat aku nanti-nanti. Soalnya, Ane dan Tia memiliki jadwal rutin untuk menginap di rumahku. Hal ini sudah disetujui oleh orangtua kami. Dan tidak lupa setiap kali ke rumahku, mereka membawa makanan mulai dari permen yang kecil manis sampai ke roti bakar yang besar manis, dari nasi goreng hingga ke nasi uduk. Pokoknya kalau di hitung-hitung setiap malam Minggu sudah tidak terhingga berapa banyak kalori yang masuk kedalam tubuh kami. Sampai-sampai mamaku menasehati kami agar tidak banyak memakan makanan yang banyak kalori karena tidak baik untuk kesehatan. Tapi, kami hanya mengingatnya semalam. Dan besok-besoknya lupa lagi.
Sudah jam delapan lewat mereka belum datang, aku duduk di ruang tamu yang berdinding warna hijau muda dan temani oleh televisi yang menayangkan Big Movie Ender’s Game yang sudah berulang-ulang aku tonton tanpa bosan. Tidak biasanya mereka ngaret selama ini. Batinku. Sesekali aku melirik kearah jam yang terduduk manis diantara photo-photo keluargaku di atas meja. Malam ini orangtuaku pergi kerumah tetangga, soalnya ada acara. Sepi.
Baru saja aku mau mengambil handphone, mereka datang dengan muka tanpa bersalah berdiri di depan rumahku yang pintunya sengaja tidak aku kunci. Bau nasi goreng yang khas tercium ketika Tia menyodorkan plastik kehadapanku.
Setelah mereka masuk aku mengunci pintu. Tanpa berbicara apa-apa.
“Nasi goreng Atik ni. Kok mukamu kusut bener? Gak suka ya?” akhirnya Tia menyadarinya membuat muka kesalku.
“Kamu ini Ti, gak sensitive banget. Aku sudah nunggu dari tadi pun.”
“Maaf. Antrian panjang. Tanya aja Ane. Atiknya pake introgasi kami pula. Nanya-nanya kelas berapa, apalah gitu.”
“Oh ya? Bagus dong. Kalau kalian sudah akrab dengan dia, mungkin saja dia punya rencana kasih potongan harga. Kan kita langganan.” Kataku sambil berjalan menuju dapur mengambil piring, sendok dan beberapa daun salada yang ditinggalkan mamaku untuk kami bertiga. Mamaku tidak pernah melarang kami untuk melakukan acara rutin kami. Dia malah senang jika ada temanku yang datang kerumah.
“Kalau kayak gitu bagus. Tapi kalau dia malah nyuruh kita kerja ditempat dia gimana?”seru Tia sambil mengambil piring yang aku bawa. Dan sudah tidak heran bagiku. Tia selalu memikirkan dampak negatif dari kejadian yang dialami.
“Positif dikitlah.” aku beralih pada Ane yang dari tadi hanya terdiam menatap handphone yang dia pegang tanpa mengedipkan mata. “Ane? Ne tumben diam aja. Keselek?”
“Ha?” Ane dengan muka bingung nanya kembali padaku. Sepertinya dia tidak mendengar apa yang aku katakan barusan.
“Aune bilang, kenapa diam aja? Keselek?” belum sempat aku mengulangi pertanyaan, ternyata Tia sudah mewalikiku.
“Enggak. Mana mungkin aku keselek. Aku kan belum makan.” Diiring ketawa kecilnya.
“Oh, kirain ada apa gitu. Ayo makan. Laper ni. Atik memang hebat. Wangi nasi gorengnya sungguh mengoda seperti bau parfumnya Asa Butterfield.” Kata Tia sambil mencium nasi goreng.
“Gila. Kayak pernah ketemuan aja. Jelas-jelas parfummu sendiri yang disemprotkan ke posternya Asa Butterfield.” Kataku sambil memasukkan beberapa  lembar salada ke piring Tia dan Ane.
“Biarin. Setidaknya dia bangga hanya dia satu-satunya cowok yang pakai parfum aku.” Sambil menyuap nasi menuju lembah pertama dalam saluran pencernaan.
“Apalah. Das....” tiba-tiba ucapanku terpotong ketika ada yang mengetuk pintu. “Tunggu bentar. Ada tamu.” Aku pergi menuju pintu dan mengintip melalui jendela yang berada di samping pintu setelah mengetahui siapa yang datang, tanpa ragu-ragu aku membuka pintu. Setelah beberapa menit kemudian, aku menutup pintu dan kembali ke ruang tamu sambil membawa plastik.
“Apa tu?” tanya Ane yang heran melihat plastik yang aku bawa.
“Ciki-ciki dari Mino. Dia janji mau ngasi buat aku sama Ane. Tia nggak masuk daftar. Soalnya Tia sudah gemuk gak kayak nyamuk lagi.”
“Gila tu orang. Sejak kapan aku kayak nyamuk. Awas ya dia. Ngajak berantem ya?”
“Ngak usah nyolotnya sama kami dong. Kami kan malaikat tanpa dosa.” Kataku sambil mengeluarkan bermacam-macam merk makanan dari plastik.
“Malaikat? Mana ada malaikat kayak kalian, gak cocok. Udah deh, ayo kita makan dulu. Gak baik makan sambil bicara. Papa mama larang.” Ujar Tia sambil tertawa karena mengingat lagu hitnya Judika.
“Yang banyak bicara siapa? Kan kamu.” Kata Ane kepada Tia. “Oia Eune, kamu masih suka gak sama Vindo?” tanyanya sambil berkata pelan-pelan kepadaku.
Kenapa Ane bertanya seperti itu? Pertanyaan ini seperti ‘satu tambah satu yang sudah pasti jawabanya dua’. Pasti dia tahu jawabannya. Kenapa mesti nanya lagi. Batinku. “Emangnya kenapa?” Aku butuh penjelasan atas dasar apa dia bertanya seperti itu.
“Nanya aja. Masih ya?”
“Kenapa juga?” Aku menatap Ane dengan perasaan aneh.
“Gini, kamu jangan marah dulu. Vindo nembak aku barusan lewat sms. Jadi gimana? Jangan marah ya Eune.”
Glegar. Petir menyambarku tepatnya di hati. Aku segera menyuruh sel-sel tubuhku bergegas bekerja untuk membangun bendungan di mataku agar air mataku tidak keluar, menguatkan hatiku agar tidak retak dan hacur karena petir mendadak ini dan tetap kuat mencerna kata-kata Ane.
“Hahaha” ketawa kecil, terpaksa tapi terdengar nyaring tanpa sadar keluar dari mulutku. Aku tidak tahu mau merespon apa. “Kenapa tanya ke aku? Aku bukan siapa-siapanya dia. Temanan aja ngak dekat.” Kata-kata itu keluar seperti air terjun. Mungkin kata-kata lebih baik daripada air mata yang keluar seperti air terjun.
“Aku ngak enak sama kamu. Aku terima dia ya?” Kata Ane menatapku. Sedangkan Tia sudah mematung tanpa berbicara apa-apa.
­Dasar Ane bodoh atau pura-pura bodoh sih. Kalau sudah tahu gak enak hati sama aku kenapa mesti tanya ke aku. Tolak aja Vindo. Gampangkan. Andai saja kata-kata itu bisa keluar dari mulutku. Tapi, apalah daya semua itu tidak semudah yang dibayangkan.
“Kalau kamu suka dengannya. Terima saja. Gak apa-apa.” Malah kata itu yang keluar.
“Kamu ikhlasin dia untukku?” tanya lagi meminta persetujuanku.
“Iya.” Sedikit senyum pahit mekar dibibirku.
Setidaknya bendungan yang telah dibangun masih tetap bertahan terhadap ombak kuat air mataku yang terus mendesak untuk keluari. Kalau malam ini tidak ada mereka berdua, aku pasti sudah merobohkan bendungan ini dan berguling-guling kesana kemari sambil nangis. Perjuanganku telah sia-sia. Semuanya berakhir dengan seperti ini. Mino adalah orang ke empat yang mengetahui berita ini. Dengan berbagai macam kata-kata dia ukir melalui sms untuk menyemangatiku agar tidak terlalu sedih. Terkadang, aku menyadari betapa baiknya Mino yang selalu ada saat aku membutuhkanya. Tapi, kami hanyalah teman. Aku benar-benar tidak bisa tidur dengan bahagia malam ini apalagi melihat orang yang tidur terlelap di samping kananku.
****
Senin sekitar jam dua siang aku uring-uringan di kamar. Aku tidak bisa tidur, banyak pikiran yang menghinggap diotakku. Dari semalam aku tidak berhenti memikirkan tentang Ane dan Vindo. Seharusnya Ane bilang ke Vindo kalau aku yang suka padanya sejak dulu. Bukannya membiarkan Vindo menembak dia. Kata-kata itulah yang selalu ingin aku lontarkan pada Ane. Tapi itu mustahil, Ane sudah lebih lama dan lebih dahulu menjadi teman baikku, dibandingkan menjadi teman burukku. “Hello..hello..moshi..moshi..Eune..” terdengar suara cempreng ditambah ketukan seperti ada kebakaran dari balik pintu kamarku. Dengan malas aku membukanya.
“Eune, kenapa handphonemu tidak aktif? Depresi?” tanya Tia sambil berjalan masuk dan langsung duduk di atas kasur.
“Baterainya low. Kenapa?” Aku duduk di kursi samping tempat tidur.
“Pantesan. Cepetan di cas. Ada sesuatu.” Kata Tia sambil memekarkan senyumannya.
“Apa sesuatunya? Lagi malas. ” Kataku tanpa menyentuh handphoneku yang tergeletak tanpa daya yang berada atas meja samping tempat tidur.
Tia melihat sekeliling kamarku, dan tatapannya sudah menemukan handphoneku yang dia tuju lalu dengan segera dia mengambil cas handphone yang berada di sebelah handphone lalu mencolokkan ke stopkontak. “Bagus kamu hidupkan sendiri ni.” Tia memberikan handphoneku yang sedang di cas.
Tanpa menjawab, aku langsung menghidupkan handphoneku. Tiba-tiba ekspresiku berubah mendadak. “Apa-apa ini? Kenapa banyak banget dia sms aku?” Belasan sms Vindo masuk kedalam inboxku. Yang memiliki maksud yang sama yaitu: Kenapa handphoneku tidak aktif dan tidak balas smsnya.
“Kok malah melebarkan mata? Harusnya melebarkan bibir dong.” Kata Tia penuh basa-basi sambil senyum.
“Serius. Apa yang terjadi? Jangan bilang kamu kasih tahu dia kalau aku suka sama dia.”
“Aku tidak bilang gitu. Dia sendiri yang ngambil kesimpulan kalau kamu suka sama dia.” Aku tidak tahu mau meletakkan muka dimana. Bisa-bisanya Tia bilang ke Vindo kalau aku suka sama dia dengan mudahnya. “Kamu tenang dulu. Aku bisa jelasin semua. Sekarang yang penting kamu balas sms dia. Dia khawatir banget sama kamu.”
“Aku tidak tahu mau balas apa. Apa yang kamu lakukan sebenarnya?”
“Tidak ada apa-apa. Aku cuma bilang, kalau kamu lebih duluan suka sama dia. Bukannya Ane. Terus dia bilang. ‘Kenapa tidak bilang dari dulu? Aku tidak tahu akan seperti ini kejadiannya’ jadi tanpa sadar aku ceritakan semuanya.”
“Sejujur itu kah kamu pada Vindo?” tanyaku. Jawaban Tia hanya anggukan kepalanya berulang kali. “Jadi, inti dari dia sms aku ini apa?”
“Aku tidak tahu. Pokoknya dia bilang ‘kenapa Aune tidak bilang dari dulu kalau Aune suka sama aku.’ Mungkin saja dia juga punya rasa sama kamu, dan menggunakan Ane untuk nanya-nanya tentang kamu. Dan buktinya dia langsung sms kamu.”
“Mustahil, Tia.” Kataku sambil menatap Tia.
“Tapi, kamu senangkan dia sms.”
Jujur, rasanya aku ingin terbang dan berteriak bahwa aku bahagia banget. Tapi, itu tidak mungkin lagi untuk sekarang. Vindo milik Ane. Dan aku tidak yakin dugaan Tia benar sepenuhnya.
“Hello? Kamu senang kan? Tanpa kamu berkata yang sebenarnya, wajahmu sudah menjelaskan kok.”
“Apaan sih? Sok tahu.”
“Terserah aja deh. Aku pulang dulu. Dan jangan lupa balas smsnya Vindo.” Tia beranjak dari tempat tidurku, dan keluar kamar.
Tiba-tiba dia terdiam di depan kamarku. “Ada apa?” tanyaku yang masih duduk.
Tia membuka pintu kamarku lebar-lebar. Dan di sana seorang perempuan berambut panjang berdiri. Yang jelas itu bukan kuntilanak yang sering aku lihat di televisi soalnya dia masih memijak lantai. Setelah lebih jelas, aku terkejut bahkan sangat-sangat terkejut sampai mata dan mulutku membetuk sudut 360 derajat. Ternyata itu adalah kuntilanak dalam hidupku, Ane. Entah kenapa sejak kejadian itu aku sedikit kurang suka terhadap Ane. Tapi, cukup Allah dan aku yang tahu tentang hal ini. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Apakah Ane mendengar semuanya?
“Hm, maaf. Tadi aku mau minta bantu dengan Eune tentang tugas matematika. Tapi, tiba-tiba mamaku menyuruhku pulang. Aku pulang dulu ya.” Kata Ane terbata-bata dan langsung pergi begitu saja. Sebelum sempat aku dan Tia berbicara.
Tia segera menutup pintu dan masuk kembali. “Eune...”
“Tia... sejak kapan dia balik pintu?” balasku memanggilnya.
“Mana aku tahu. Coba kamu tanya mamamu, soalnya tadi waktu aku datang mamamu yang menyuruhku langsung ke kamarmu. Mungkin saja mamamu juga yang menyuruh Ane ke sini.Tapi, itu bagus. Setidaknya dia sadar. Vindo itu untukmu.”
“Kok kamu gitu.” Walaupun Ane adalah orang yang telah mengkhianatiku, tapi dia tetap perempuan yang memiliki perasaan sama seperti perempuan lain. “Sekarang, kita harus ngapain coba?” Aku bertanya pada Tia. Baru saja aku merasakan indahnya hidup di dunia, dan sekarang semua itu lenyap seketika  seperti memutar telapak tangan.
“Berfikir.” Kata Tia lagi. Kami berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba handphone aku berdering. Kali ini adalah nomor yang pertama kali menelpon ke nomorku. Vindo.
“Gimana Tia, kamu saja yang angkat ya?” Aku memberi handphoneku pada Tia.
Tia menolak. “Tidak bisa begitu. Itu nomormu. Angkat sajalah. Nanti dia pingsan lagi, kalau dengar suara istri Asa Butterfield.” Canda Tia yang sempat-sempatnya ia lakukan pada saat seperti ini. Aku menarik napas panjang dan mengeluarkannya pelan-pelan lalu aku angkat telpon dari Vindo.
“Hallo....Terus....Apa?....Kenapa jadi aku? Itu salah kamu sendiri........... Ok..” aku langsung mematikan handphone dengan kesal. 
“Kenapa?”
“Masa iya, Ane nelpon Vindo sambil nangis gara-gara aku masih suka sama Vindo. Jelas-jelas aku dari dulu memang suka sama Vindo. Lagian, Vindo yang sms aku duluan.”
“Terus? Terus?”
“Ya, Vindo  menyuruhku  membujuk Ane agar tidak nangis lagi. Benar-benar gila. Kenapa aku jadi tersangka. Jelas-jelas aku adalah korban.” Emosiku sedikit naik. Ini semua benar-benar tidak masuk akal. Vindo yang baru sadar akan besarnya cintaku padanya kini semua itu berubah menjadi permintaan bantuan darinya untuk membujuk wanita yang menjadi duri dalam perjuanganku mendapatkan Vindo. Memang apa yang difikirkan oleh Vindo.
“Jadi gimana?”
Tanpa menjawab pertanyaan Tia, aku langsung mengambil handphone dan menelpon Ane.
“Hallo Ane, dengankan aku. Sekarang aku sudah tidak ada rasa dengan Vindo lagi. Jangan salah paham.... Kalau ngerti kenapa nangis?.... Lain kali kalau jangan langsung ambil kesimpulan sendiri. Aku jadi gak enak ni.... Yalah.... Ya. Dah ya, Bye.” Aku mematikan handphone. Mungkin baru kali ini aku bicara dengan nada sedikit tinggi pada Ane. Sejujurnya aku tidak ingin melakukannya. Tapi, aku tidak bisa menjadi perempuan sabar terus. Sabar itu susah. Selesai sudah semuanya. Aku hanya bisa terdiam menyaksikan kisah hidup bahagia antara Ane sahabat penusukku dan Vindo lelaki yang benar-benar sulit untuk aku ungkapkan saat ini.
“Dah? Selesai? Hanya sampai sini perjuangan cintamu pada Vindo?” tanya Tia padaku.
“Jadi harus bagaimana lagi? Lagian, setelah peristiwa ini aku tahu kalau Vindo itu tidak baik. Buktinya, dengan mudahnya dia bersikap khawatir padaku dan tiba-tiba jadi marah-marah. Emosi aku. Jadi, jangan pernah ungkit-ungkit dia lagi. Ok. Hm, kamu tidak jadi pulang?” sedikit senyum aku sengaja ciptakan agar Tia tidak khawatir terhadapku.
“Ya nih. Pulang dulu ya. Sabar ya. Kalau kamu mau cerita lagi. Aku siap dengerin. Bye” Tia kali ini benar-benar pulang.
Sepuluh detik, tujuh detik, empat detik, dan satu detik, tes. Air mata yang sudah berusaha aku bendung akhirnya menjebol bendunganku. Dan keluar seperti air terjun. Aku segera menelpon Mino untuk mencurahkan semuanya padanya. Dengan sabar dia mendengarkanku yang aku ceritakan sambil menangis tanpa henti. Dia juga memberi memberi semangat padaku agar aku tidak terlalu sedih. Entah bagaimana jika tidak ada Mino, aku tidak tahu mau mencurahkan semua ini pada siapa lagi. Pada mama atau ayah? Itu gak mungkin. Sangat memalukan. Pasti mereka akan mengatakan ‘masih banyak lelaki di dunia. Dan seharusnya kamu belajar untuk saat ini bukan mencari lelaki’. Itu sudah pasti akan terucap dari salah satu mereka. Setelah hampir 45 menit bicara pada Mino, aku mematikan handphone.
Apakah laki-laki memang seperti itu? Dengan mudahnya merubah keputusan tanpa berfikir panjang, apakah itu akan menyakitkan pihak lain atau tidak? Pupus sudah segalanya tentang Vindo. Terbuang sia-sia rasa cintaku padanya sejak 4380 jam yang lalu. Kisah cinta terburuk akhirnya menyapaku juga, bagaimanapun ini sudah menjadi takdir hidupku. Tidak terasa matahari sudah mulai tenggelam, begitu banyak masalah yang aku lewati hari ini. Seiring tenggelamnya matahari, tenggelam pula diriku dalam kesedihan. Tapi esok hari matahari pasti akan bersinar kembali. Apakah kebahagianku akan bersinar juga? Inilah kenyataan yang harus aku jalani. Terkadang tidak semua usaha menghasilkan buah yang manis, jika kita salah sedikit dalam berusaha, maka semua akan sia-sia. Aku terlelap, semoga aku bisa bermimpi indah dan bertemu pangeran yang sebenarnya untuk hidupku dan yang jelas bukan Vindo.

1 komentar:

  1. The 12 Best Slots by RealTime Gaming | MapYRO
    › › Games › Hot-R › › Games › Hot-R 경주 출장안마 Slot machines 충주 출장마사지 with real 하남 출장안마 money in December 2021. 삼척 출장샵 Get Free Coins for Fun 의정부 출장샵 - No Deposit Required.

    BalasHapus